PUISI UNTUK HABIB BAHAR BIN SMITH
Oleh: Nasrudin Joha
Bila hari mulai gelap, Engkau tiada melihat sinaran, Bertawasullah dengan gelap, karena gelap itu datangnya dari Allah, Bertawashulah, melalui gelap malam agar lekas menuju fajar shodik, ufuk perubahan, melalui datangnya sinar matahari,
Rezim dungu ini, Tak tahu apa yang dia lakukan, Memenjara badan tak mampu menghalangi Fikiran, Mengkriminalisasi tak akan mampu mengubah ketetapan hati, Memotong dahan, tak akan menghalangi musim panen,
Musim panen perubahan, abad baru tegaknya Islam, abad berakhirnya 'Mulkan Jabriyatan' telah menyembul di ufuknya,
Kezaliman tidak mampu menghentikan, Kezaliman yang telah dipilih dan ditetapkan, justru menjadi pemantik api perubahan,
Sampaikan pesan kepada rezim, Ragamu dapat membusuk, tapi jiwamu tetap terbebas, Bebas dari tunduk dan taat kepada makhluk, dan hanya menghamba kepada Allah SWT, dzat pencipta dan penguasa makhluk,
Serpihkan, diantara onggokan bangkai busuk akibat pencederaan rezim, racun-racun kematian bagi rezim. Buat rezim menyesal, telah berani menyentuh kemuliaan umat dan agama Islam,
Tidak perlu berpamitan, tidak perlu berwasiat amanah untuk melanjutkan perjuangan, kita akan hentikan bersama kezaliman ini, bersama pertolongan Allah dan dukungan umat,
Tidakkah engkau mencium aroma perubahan itu ? Baunya begitu menyengat,
Kabar kejatuhan rezim, sayup sayup mendekat dan semakin kuat, biarkan mereka berpesta dengan sisa usia yang ada, sebelum akhirnya umat mengubur dan membenamkannya ke liang lahat yang paling dalam,
Habib Bahar, tetaplah tegar. Wahai Nasab Smith, tetaplah menjadi manusia langit ! Jangan melemah melawan rezim banci, jangan tunduk pada kezaliman makhluk, Bersumpahlah ! Engkau hanya akan tunduk, taat dan patuh kepada Allah SWT semata.
Barakallah ....
[].
0 Komentar