CINTA AHOK, BENCI HABIB BAHAR

CINTA AHOK, BENCI HABIB BAHAR
__
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Sudah menjadi karakter bagi kaum sekuler liberal bersikap tidak adil dalam berujar. Standar ganda menjadi senjata utama bagi pergerakannya. Mengaku beragama tetapi anti dengan aturan dan simbol-simbol agama. Alergi dengan wanita yang berhijab tetapi melehoy dengan yang mengumbar aurat.

Ada lagi, risih dengan orang berjenggot, tetapi tidak risih dengan orang-orang di tempat maksiat. Bising dengan suara penegakkan Syariat, tetapi tidak risih dengan para pejabat yang sering teriak "saya Pancasila" tetapi bermoral bejat.

Kabar asusila tentang seorang Habib yang tidak ada faktanya sama sekali diumbar dengan sesuka hatinya, sementara kabar salah seorang tokohnya yang tertangkap basah berbuat zina di sebuah hotel malah kami disuruh untuk tidak memviralkannya.

Mengaku cinta damai, ramah, anti kekerasan, tetapi bersikap brutal terhadap golongan yang tidak sepaham. Habib Bahar mereka benci karena teriakan-teriakannya setiap kali beliau ceramah, tetapi mereka tetap cinta kepada Ahok sekalipun ia juga sama suka membentak-bentak rakyatnya.

Alasannya, Ahok itu marah-marah demi kebaikan, bukan karena memang dia kasar. Mereka pikir Habib Bahar marah-marah bukan demi kebaikan ? Beliau marah-marah terhadap kemungkaran, terhadap bandar judi, bandar miras, terhadap para pejabat yang mengkhianati janjinya kepada rakyat. Apa itu bukan karena kebaikan ?

Memang susah kalo orang sudah ada penyakit hasad di dalam hatinya. Merasa yang paling paham agama hanya kelompoknya, yang lain tidak. Mengaku yang paling Pancasilais hanya golongannya, yang lain tidak. Yang berjuang untuk Indonesia hanya gerombolannya, yang lain tidak. Selain golongannya radikal, ekstrimis, tak punya jasa untuk negara.

Benci setengah mati kepada para penceramah yang keras suaranya, sementara tetap cinta kepada Ahok yang memimpin Ibu Kota dengan ucapan-ucapan kasar tak bermoral.

Dari sini saya paham, hakikatnya mereka tidak anti dengan kekerasan. Buktinya, mereka tetap setia kepada Ahok walaupun bermulut kasar, menyaksikan konsolidasi gerakan makar OPM (di Surabaya) mereka hanya diam. Bahkan mereka sendiri berulangkali bersikap brutal ketika membubarkan pengajian.

Dulu saya simpati kepada mereka, karena saya sendiri pernah menjadi bagian dari mereka. Tetapi kini tidak lagi, karena saya tidak mau melawan nurani. Mereka sudah tidak lagi membela yang benar, tetapi membela yang bayar. Sudah tidak lagi mengawal ulama, tetapi mengawal siapa saja yang mau membayarnya.

Na'udzubillaah

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 8 Desember 2018

0 Komentar